dayat
https://adimangkun.wordpress.com/ http://nehasalon.000webhostapp.com/
Selasa, 04 Oktober 2016
Selasa, 06 September 2016
SMS ONLINE
SMS Online
Excel https://xmlgrid.net/excelViewer.html
SSM isi https://www.dropbox.com/s/a36wqzoyfhloluw/sms-20160415-081432.xls?dl=0
Excel https://xmlgrid.net/excelViewer.html
SSM isi https://www.dropbox.com/s/a36wqzoyfhloluw/sms-20160415-081432.xls?dl=0
Selasa, 14 Juni 2016
Rumus Perhitungan Debit Air
Debit air dapat di hitung dengan rumus:
Q= A x V
Keterangan:
V = volume air (m3)
A = luas penampang
Q = debit air (m3/s)
Leonard euler (1707-1783) menyatakan bahwa fluida sebagai medan rapat massa dan medan vector kecepatan. Tiap besaran yang dipergunakan untuk menyatakan keadaan fluida akan mempunyai nilai tertentu pada tiap titik dalam ruang dan pada tiap saat.
Q= A x V
Keterangan:
V = volume air (m3)
A = luas penampang
Q = debit air (m3/s)
Leonard euler (1707-1783) menyatakan bahwa fluida sebagai medan rapat massa dan medan vector kecepatan. Tiap besaran yang dipergunakan untuk menyatakan keadaan fluida akan mempunyai nilai tertentu pada tiap titik dalam ruang dan pada tiap saat.
·
Menentukan lokasi daerah
pengukuran
1.
Memasang pasak 1 disebelah kiri
saluran, kemudian tegak lurus ke arah seberang, pasak no.2.
2.
Menghubungkan antara pasak no.1
dengan pasak no.2 menggunakan tali rafia. (sebagai batas daerah pengukur I)
A.
Memasang pasak no.3 dengan no.4
dengan jarak 25 meter ke arah hilir pada pasak no.1 dan no.2.
B.
Menghubungkan antara pasak no.3
dan pasak no.4 dengan tali rafia (sebagai batas daerah pengukur II)
C.
Jarak I dan II = (D) dalam
satuan meter
·
Menentukan kecepatan aliran air
(V)
1.
Memastikan semua peralatan
dengan kondisi baik dan siap digunakan.
2.
Memulai dengan menghanyutkan
bola pimpong dengan jarak 5 meter dari batas pengukuran I ke arah hulu saluran.
3.
Menghidupkan stopwatch, saat
bola pimpong tepat berada di bawah tali batas daerah penampang I.
4.
Mematikan stopwatch sesaat bola
pimpong telah mencapai tepat di bawah tali batas daerah penampung II.
5.
Mencatat waktu untuk menempuh
jarak dari daerah penampang I ke daerah penampang II (t).
6.
Menghitung kecepatan aliran air
dengan menggunakan rumus
, dimana :
V = kecepatan aliran air sungai
(m/detik)
D = jarak antara daerah
penampang I dengan II (meter)
t = waktu yang diperlukan untuk
menempuh jarak (detik)
·
Menentukan luas penampang basah
saluran (A)
1.
Menentukan lebar saluran (I)
pada daerah penampang.
2.
Mengukur kedalaman air (d1)
pada daerah penampang I kemudian diulangi ; hingga lima tempat (d2, d3, d4,
d5).
1.
Menentukan rata-rata dalam air
(d) pada daerah penampang I
d=menghitung luas penampang basah
dengan menggunakan rumus :
A = I x d m , dimana
A= luas
penampang basah (m2)
I=
lebar saluran (meter)
d=
kedalaman air rata-rata (meter)
Q= V x A
Q =
debit air yang mengalir (m3/detik)
V=
kecepatan aliran air (m/detik)
A= Luas
penampang basah (m2)
Contoh:
Berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan dalam
menghitung debit saluran air di sungai maka diperoleh hasil sebagai berikut.
LI sebagai lebar saluran 1 : 1.5 m
LII sebagai lebar saluran 2 : 1.5 m
D = 25 m
t = 43 detik
Menghitung kecepatan aliran air (V):
V = 0.58 m/detik
LI à d1 = 0.45
m LII à d1 =
0.36 m
d2 = 0.44 m
d2
= 0.37 m
d3 = 0.55
m d3
= 0.35 m
d4 = 0.38
m d4
= 0.34 m
d5 = 0.32
m d5
= 0.3 m
LI = 0.43 m
LII = = 0.34 m
A = L x d
AI = luas penampang basah 1
AII = luas penampang basah 2
AI = 1.5 m X 0.43 m = 0.645 m
AII = 1.5 m X 0.34 m = 0.51 m
= 0.57 m2
= 0.57 m2
Q = V x A
Q = 0.58 m/dtk X 0.57 m2
Q = 0.33 m3/detik
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dan sesuai perhitungan
dengan menggunakan rumus maka diperoleh hasil perhitungan debit saluran air
pada aliran sungai di belakang area kolam pembesaran ikan pada hari selasa, 19
April 201 adalah 0.33 m3/detik.
Minggu, 05 Juni 2016
HIDROLOGI
Pos By Adi Dayat
3.1. PENYEBARAN POS HIDROLOGI
Jumlah stasiun hujan didalam dan sekitar lokasi DAS Segare berjumlah 5 buah dengan perincian 3 stasiun milik Balai Informasi Sumber Daya Air dan 2 stasiun lainnya milik instansi lain. Dalam studi ini dipilih 3 stasiun milik Balai Hidrologi, yaitu stasiun Santong, stasiun Sesaot dan stasiun Gunung Sari dengan catatan waktu 15 tahun. Pemilihan ketiga stasiun ini didasarkan atas dasar beberapa kriteria yang berlaku, antara lain yaitu digunakan data stasiun hujan yang yang mempunyai jarak dengan lokasi studi kurang dari 30 km dan memenuhi persyaratan data runtun waktu (time series) minimal 10 tahun.
3.2 KETERSEDIAAN DATA
Ketersediaan data terutama data curah hujan merupakan faktor yang paling penting dalam penyelesaian analisa hidrologi. Disamping itu pemilihan stasiun hujan diupayakan sedemikian rupa agar data-data yang akan digunakan sedapat mungkin mewakili kondisi riil daerah studi. Dalam hal ini beberapa pertimbangan dalam pemilihan stasiun hujan yang akan digunakan pada analisa ini antara lain :
1. Jarak antara pos/stasiun hujan dengan lokasi studi/proyek didasarkan pada kriteria seperti disebutkan dalam Bab 4.3.2 halaman 4.3 buku “Pedoman Desain Embung Kecil untuk Daerah Semi Kering di Indonesia” (Departemen PU, 1994) sebagai berikut :
-
Jarak terdekat antara pos/stasiun hujan dengan lokasi studi < 10 km.
-
Jika tidak ada pos/stasiun hujan dengan jarak < 10 km, dicari pos/stasiun lain dengan jarak antara 11 km sampai 20 km tetapi jumlah minimal pos/stasiun hujan harus dua.
-
Bila kedua pos dengan jarak antara 11 km sampai 20 km tidak dapat diketemukan, dicari 3 pos hujan atau lebih disekeliling lokasi dengan jarak kurang dari 50 km.
2. Kesamaan karakteristik DAS : karakteristik DAS dimana data hujan diperoleh sama atau mirip dengan kondisi lokasi studi.
3. Memenuhi persyaratan data : tersedia data hidrologi runtun waktu (time series) minimal 10 tahun, tidak terdapat data kosong dan memenuhi syarat :
-
Stasioner atau tidak menunjukan adanya trend
-
Independen, yaitu kejadian banjir tidak saling berpengaruh (tahun hidrologi Oktober – September, bukan tahun kalender Januari – Desember)
-
Homogen, yaitu dari populasi yang sama, banjir dari hujan badai (thunderstorm) dianggap tidak sama populasinya
-
Random (pure stochastic in nature) atau banjir tidak dibuat misal dengan membuka pintu pembuangan suatu bendung.
Perilaku hujan pada titik tinjau di DAS Segare menggunakan stasiun Santong, stasiun Sesaot dan stasiun Gunung Sari. Peta lokasi kedua stasiun hujan terhadap titik tinjau DAS dapat dilihat pada Gambar 3.1, ketersedian data untuk maasing-masing stasiun dapat dilihat pada Tabel 3.1
Gambar 3.1. Peta Lokasi Stasiun Hujan terhadap DAS Segare
Tabel 3.1. Ketersediaan data untuk analisis hidrologi (Pos AWLR Dasan Tengak)
Uraian |
Panjang data |
Data hujan harian (ARR) stasiun Sesaot |
1997-2011 (15 Tahun) |
Data hujan harian (ARR) stasiun santong |
1997-2011 (15 Tahun) |
Data hujan harian (ARR) stasiun Gunung Sari |
1997-2011 (15 Tahun) |
Data debit AWLR Dasan Tengak |
2012 (tahun terbaru) |
Rating curve Sungai Segare |
Sumber: Balai Informasi Sumber Daya Air PU Prov. NTB
4.3 ANALISA DATA HUJAN
4.3.1. Uji Konsistensi Data
Sabelum data hujan ini dipakai, terlebih dahulu harus melewati pengujian untuk kekonsistensian data tersebut. Karena data hujan diperoleh dari hanya satu stasiun hujan, maka metode yang digunakan adalah metode RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sums) (Buishand,1982).
Data abnormal, tidak homogen maupun data tidak konsisten menyebabkan hasil analisa tidak teliti. Oleh karena itu sebelum data tersebut dipakai untuk analisa, terlebih dahulu harus dilakukan beberapa macam pengujian. Pengujian yang akan digunakan adalah Uji konsistensi data menggunakan Metode RAPS. Pada umumnya uji konsistensi data sudah meliputi uji homogenitas data karena data yang konsisten juga berarti data tersebut adalah homogen.
Berikut hasil uji RAPS stasiun Santong, stasiun Sesaot dan stasiun Gunung Sari disajikan pada Tabel 3.2-3.4 berikut.
Tabel 4.1 Uji RAPS Stasiun Santong
No |
Tahun |
Hujan |
Sk* |
( y – y ) 2 / n |
Sk** |
[Sk**] |
||
1 |
1997 |
120 |
-9.26 |
5.72 |
-0.21 |
0.21 |
||
2 |
1998 |
122 |
-7.06 |
3.32 |
-0.16 |
0.16 |
||
3 |
1999 |
99 |
-30.36 |
61.45 |
-0.70 |
0.70 |
||
4 |
2000 |
67 |
-62.26 |
258.42 |
-1.44 |
1.44 |
||
5 |
2001 |
183 |
53.74 |
192.53 |
1.25 |
1.25 |
||
6 |
2002 |
98 |
-31.16 |
64.73 |
-0.72 |
0.72 |
||
7 |
2003 |
182 |
52.94 |
186.84 |
1.23 |
1.23 |
||
8 |
2004 |
84 |
-45.76 |
139.60 |
-1.06 |
1.06 |
||
9 |
2005 |
220 |
90.74 |
548.92 |
2.11 |
2.11 |
||
10 |
2006 |
136 |
6.54 |
2.85 |
0.15 |
0.15 |
||
11 |
2007 |
114 |
-14.86 |
14.72 |
-0.34 |
0.34 |
||
12 |
2008 |
113 |
-16.56 |
18.28 |
-0.38 |
0.38 |
||
13 |
2009 |
125 |
-4.46 |
1.33 |
-0.10 |
0.10 |
||
14 |
2010 |
87 |
-42.26 |
119.06 |
-0.98 |
0.98 |
||
15 |
2011 |
189 |
60.04 |
240.32 |
1.39 |
1.39 |
||
J umlah |
1938.90 |
Δy2 = |
1858.09 |
|||||
Rata-rata |
129.26 |
|||||||
n = |
15 |
|||||||
Dy = |
43.106 |
Dy = SQRT (JUMLAH kolom 5) |
||||||
Sk ** maks = |
2.105 |
Sk ** maks = maks kolom 6 |
||||||
Sk ** min = |
-1.444 |
Sk ** min = min kolom 6 |
||||||
Q = |
2.105 |
Q = maks kolom 6 |
||||||
R = |
3.549 |
R = SK** maks – SK** min |
||||||
Q / (n)(1/2) hit = |
0.544 |
< |
Q / (n)(1/2) tabel |
95% |
= |
1.18 |
OK!!! |
|
R / (n)(1/2) hit = |
0.916 |
< |
R / (n)(1/2) tabel |
95% |
= |
1.35 |
OK!!! |
|
Sumber : Hasil Perhitungan
Tabel 3.3 Uji RAPS Stasiun Sesaot
No |
Tahun |
Hujan |
Sk* |
( y – y ) 2 / n |
Sk** |
[Sk**] |
||
1 |
1997 |
86 |
-1.33 |
0.12 |
-0.05 |
0.05 |
||
2 |
1998 |
67 |
-20.53 |
28.09 |
-0.76 |
0.76 |
||
3 |
1999 |
47 |
-40.03 |
106.81 |
-1.48 |
1.48 |
||
4 |
2000 |
69 |
-18.23 |
22.15 |
-0.68 |
0.68 |
||
5 |
2001 |
82 |
-4.99 |
1.66 |
-0.18 |
0.18 |
||
6 |
2002 |
79 |
-8.68 |
5.02 |
-0.32 |
0.32 |
||
7 |
2003 |
87 |
-0.33 |
0.01 |
-0.01 |
0.01 |
||
8 |
2004 |
84 |
-3.01 |
0.60 |
-0.11 |
0.11 |
||
9 |
2005 |
110 |
22.67 |
34.27 |
0.84 |
0.84 |
||
10 |
2006 |
105 |
17.77 |
21.06 |
0.66 |
0.66 |
||
11 |
2007 |
64 |
-23.03 |
35.35 |
-0.85 |
0.85 |
||
12 |
2008 |
62 |
-25.23 |
42.42 |
-0.94 |
0.94 |
||
13 |
2009 |
103 |
15.89 |
16.84 |
0.59 |
0.59 |
||
14 |
2010 |
98 |
11.10 |
8.22 |
0.41 |
0.41 |
||
15 |
2011 |
165 |
77.90 |
404.60 |
2.89 |
2.89 |
||
J umlah |
1309.89 |
Δy2 = |
727.21 |
|||||
Rata-rata |
87.33 |
|||||||
n = |
15 |
|||||||
Dy = |
26.967 |
Dy = SQRT (JUMLAH kolom 5) |
||||||
Sk ** maks = |
2.889 |
Sk ** maks = maks kolom 6 |
||||||
Sk ** min = |
-1.484 |
Sk ** min = min kolom 6 |
||||||
Q = |
2.889 |
Q = maks kolom 6 |
||||||
R = |
4.373 |
R = SK** maks – SK** min |
||||||
Q / (n)(1/2) hit = |
0.746 |
< |
Q / (n)(1/2) tabel |
95% |
= |
1.18 |
OK!!! |
|
R / (n)(1/2) hit = |
1.129 |
< |
R / (n)(1/2) tabel |
95% |
= |
1.35 |
OK!!! |
|
Sumber : Hasil Perhitungn
Tabel 3.4 Uji RAPS Stasiun Gunung Sari
No |
Tahun |
Hujan |
Sk* |
( y – y ) 2 / n |
Sk** |
[Sk**] |
||
1 |
1997 |
96 |
-12.31 |
10.10 |
-0.24 |
0.24 |
||
2 |
1998 |
110 |
1.29 |
0.11 |
0.03 |
0.03 |
||
3 |
1999 |
79 |
-29.91 |
59.63 |
-0.59 |
0.59 |
||
4 |
2000 |
78 |
-31.01 |
64.10 |
-0.61 |
0.61 |
||
5 |
2001 |
96 |
-12.61 |
10.60 |
-0.25 |
0.25 |
||
6 |
2002 |
87 |
-21.11 |
29.70 |
-0.42 |
0.42 |
||
7 |
2003 |
93 |
-15.51 |
16.03 |
-0.31 |
0.31 |
||
8 |
2004 |
92 |
-16.05 |
17.17 |
-0.32 |
0.32 |
||
9 |
2005 |
61 |
-47.91 |
153.01 |
-0.95 |
0.95 |
||
10 |
2006 |
93 |
-15.11 |
15.22 |
-0.30 |
0.30 |
||
11 |
2007 |
93 |
-15.51 |
16.03 |
-0.31 |
0.31 |
||
12 |
2008 |
283 |
174.89 |
2039.16 |
3.45 |
3.45 |
||
13 |
2009 |
132 |
23.94 |
38.22 |
0.47 |
0.47 |
||
14 |
2010 |
92 |
-16.95 |
19.15 |
-0.33 |
0.33 |
||
15 |
2011 |
142 |
33.83 |
76.31 |
0.67 |
0.67 |
||
J umlah |
1627.61 |
Δy2 = |
2564.53 |
|||||
Rata-rata |
108.51 |
|||||||
n = |
15 |
|||||||
Dy = |
50.641 |
Dy = SQRT (JUMLAH kolom 5) |
||||||
Sk ** maks = |
3.454 |
Sk ** maks = maks kolom 6 |
||||||
Sk ** min = |
-0.946 |
Sk ** min = min kolom 6 |
||||||
Q = |
3.454 |
Q = maks kolom 6 |
||||||
R = |
4.400 |
R = SK** maks – SK** min |
||||||
Q / (n)(1/2) hit = |
0.892 |
< |
Q / (n)(1/2) tabel |
95% |
= |
1.18 |
OK!!! |
|
R / (n)(1/2) hit = |
1.136 |
< |
R / (n)(1/2) tabel |
95% |
= |
1.35 |
OK!!! |
|
4.3.2. Analisa Hujan Rata-Rata Daerah Aliran Sungai
Karena terdapat tiga buah stasiun yang memenuhi syarat, maka Curah Hujan (CH) rerata daerah dicari menggunakan Metode Poligon Thiessen. Hasil CH rerata daerah ini dapat dilihat pada Tabel 3.5
Perhitungan data dilakukan dalam satu tahun tertentu di salah satu pos hujan. Kemudian dicari juga besarnya curah hujan pada tanggal-bulan-tahun yang sama untuk pos hujan yang lain. Setelah ketiga data itu diperoleh maka dihitung hujan rerata daerah dengan menggunakan metode Poligon Thiessen. Dari hasil rerata yang diperoleh (sesuai dengan jumlah pos hujan) dipilih yang tertinggi setiap tahun. Data hujan yang terpilih setiap tahun merupakan hujan maksimum harian daerah untuk tiap tahunnya.
Tabel 3.5 Curah Hujan Rerata Daerah DAS Segare
TAHUN |
CH. RERATA (mm) |
|
1998 |
104.43 |
|
1999 |
98.19 |
|
2000 |
76.09 |
|
2001 |
68.42 |
|
2002 |
136.06 |
|
2003 |
89.34 |
|
2004 |
137.46 |
|
2005 |
84.30 |
|
2006 |
165.42 |
|
2007 |
120.67 |
|
2008 |
92.16 |
|
2009 |
100.09 |
|
2010 |
116.09 |
|
2011 |
92.06 |
|
2012 |
176.74 |
3.4 ANALISA HUJAN RANCANGAN
3.4.1 Analisa Pemilihan Agihan
Metode yang digunakan untuk menganalisa frekuensi curah hujan ditetapkan berdasarkan hasil uji statistik untuk mendapatkan sebaran yang mendekati. Parameter statistik yang dihitung adalah harga rata-rata, standar deviasi, koefisien variasi, koefisien kemiringan, dan koefisien kurtosis.
Rekapitulasi hasil perhitungan komponen parameter distribusi curah hujan disajikan dalam Tabel 3.6 berikut.
Tabel 3.6. Hasil Perhitungan Parameter Statistik
Sumber : Hasil Perhitungan
Berdasarkan harga Cv, Cs dan Ck hasil perhitungan di atas, maka pemilihan distribusi didasarkan pada Distribusi Log Pearson Type III.
3.4.2 Uji Kesesuaian Pemilihan Distribusi
Untuk mengetahui apakah data tersebut benar sesuai dengan jenis sebaran teoritis yang dipilih maka perlu dilakukan pengujian lebih lanjut.
Untuk keperluan Analisa uji kesesuaian dipakai dua metode statistik sebagai berikut :
-
Uji Smirnov-Kolmogorov
Uji Smirnov-Kolmogorov diperoleh dengan memplot data dan probabilitasnya dari data yang bersangkutan, serta hasil perhitungan empiris dalam bentuk grafis. Dari kedua hasil pengeplotan, dapat diketahui penyimpangan terbesar (D maksimum). Penyimpangan tersebut kemudian dibandingkan dengan penyimpangan kritik yang masih diijinkan (D cr), pada proyek ini digunakan nilai kritis (significant level) a = 5 %. Nilai kritik D untuk pengujian ini tergantung pada jumlah data dan a.
Secara ringkas hasil pengujian kesesuaian distribusi data CH rerata DAS menggunakan Uji Smirnov-Kolmogorov disajikan pada Tabel 3.7 berikut.
Tabel 3.7. Perhitungan Uji Smirnov-Kolmogorov
Sumber : Hasil Perhitungan
-
Uji Chi Square (c2)
Metode ini sama dengan Metode Smirnov-Kolmogorov, yaitu untuk menguji kebenaran distribusi yang dipergunakan pada perhitungan frekuensi analisis. Distribusi dinyatakan benar jika nilai c2 dari hasil perhitungan lebih kecil dari c2 kritik yang masih diizinkan.
Hasil pengujian data CH rerata DAS menggunakan Uji Chi Square disajikan pada Tabel 3.8 berikut.
Tabel 3.8. Uji Chi Square (c2 )
Sumber : Hasil Perhitungan
Dari kedua jenis pengujian di atas dapat disimpulkan bahwa Distribusi Log Pearson Type III dapat digunakan.
4.4.3 Analisa Curah Hujan Rancangan
Untuk menghitung debit banjir rancangan dari data curah hujan (rainfall runoff method), harus dihitung dahulu besarnya curah hujan rancangan (RT). Curah hujan rancangan dihitung dengan metode Log Pearson Type III, hal ini didasarkan pada hasil Uji Kecocokan Agihan sebelumnya.
Besarnya hujan rancangan untuk masing-masing kala ulang dapat dilihat pada Tabel 3.9 berikut :
Tabel 3.9 Hujan rancangan untuk berbagai kala ulang
Kala Ulang |
Curah |
|
Peluang (%) |
Hujan |
|
(mm) |
||
2 |
50.00 |
104.771 |
5 |
20.00 |
133.297 |
10 |
10.00 |
152.776 |
15 |
6.67 |
154.080 |
20 |
5.00 |
156.724 |
25 |
4.00 |
178.050 |
50 |
2.00 |
197.464 |
100 |
1.00 |
217.369 |
200 |
0.50 |
237.968 |
500 |
0.20 |
249.874 |
1000 |
0.10 |
289.290 |
Sumber : Hasil Perhitungan |
||
3.5 ANALISA BANJIR RENCANA
3.5.1 Umum
Analisa debit banjir rencana adalah analisa untuk mendapatkan besaran banjir inflow dalam berbagai kala ulang. Banjir rencana dianalisa menggunakan metode hidrograf satuan sintetik dengan anggapan kala ulang banjir sama dengan kala ulang hujan. Metode dalam perhitungan hidrograf satuan sintetik yang digunakan adalah Nakayasu, Chatment Area rencana lokasi pos dapat dilihat pada Gambar 3.2, bagan alir perhitungan dapat dilihat pada Gambar 3.3. Data teknis setiap tinjauan pada lokasi proyek untuk keperluan analisa banjir rencana, dapat dilihat pada Tabel 3.10 berikut ini :
Gambar 3.2 Chatment Area Lokasi Pos Rencana
Gambar 3.3. Bagan Alir Analisis Banjir Rancangan
Tabel 3.10 Data Teknis tinjauan DAS pada lokasi proyek
Titik Kontrol(Tinjauan) |
Catchment Area(km2) |
Panjang DAS(km) |
BM 0 |
110,42 |
25,79 |
Sumber : Hasil Perhitungan
3.5.2 Koefisien Pengaliran
Besarnya koefisien pengaliran pada suatu DAS dipengaruhi oleh tata guna lahan, kemiringan dan jenis tanah. Kondisi hidrologis DAS pada lokasi studi saat ini adalah berupa hutan, sawah, tegalan/kebun serta perumahan.
Cara yang dianggap cukup baik dalam menentukan nilai koefisien pengaliran (koefisien C) adalah dengan memberikan koreksi terhadap koefisien C sebagai fungsi luas daerah penggunaan lahannya (koefisien DAS). Cara ini memberikan bobot tertentu untuk setiap koefisien pengaliran dengan pengertian bahwa setiap koefisien pengaliran dapat mewakili koefisien pengaliran daerah dengan luas penggunaan lahan tertentu dan luas tersebut merupakan faktor koreksi bagi koefisien C yang bersangkutan. Karena kekurangan data tata guna lahan pada DAS segare maka penentuan koefisien pengaliran(C) menggunakan Tabel 3.11 dengan mengambil nilai C sebesar 0.70 dimana kondisi DAS berupa Hutan.
Tabel 3.11 Koefisien Pengaliran
Kondisi DAS |
Angka Pengaliran |
Pegunungan curam |
0.75 – 0.90 |
Pegunungan tersier |
0.70 – 0.80 |
Tanah bergelombang dan hutan |
0.50 – 0.75 |
Dataran pertanian |
0.45 – 0.60 |
Persawahan yang diairi |
0.70 – 0.80 |
Sungai di pegunungan |
0.75 – 0.85 |
Sungai di dataran |
0.45 – 0.75 |
Sungai besar yang sebagian alirannya berada di dataran rendah |
0.50 – 0.75 |
Sumber : Suyono Sosrsodarsono, (1980)
3.5.3. Distribusi Hujan Jam-Jaman
Analisa curah hujan jam-jaman dilakukan untuk mengetahui rasio sebaran hujan Sungai Segare sehingga curah hujan rancangan dapat diubah menjadi debit banjir rancangan. Distribusi Hujan yang sering dipergunakan dalam perencanaan apabila didaerah kajian tidak/belum ada hasil penelitian adalah menggunakan metode Rasional sebagai berikut:
dengan :
Rt = intensitas curah hujan rerata sampai jam ke t (mm)
R24 = Curah hujan harian maksimum (mm)
T = periode hujan 3-6 jam, diambil 4 jam
t = waktu hujan (1 s/d 4 jam)
RT = distribusi hujan pada jam ke t (mm)
Hasil perhitungan distribusi hujan menggunakan metode Rasional adalah sebagai berikut ini.:
Tabel 3.11 Distribusi Hujan Jam-jaman (%)
Tipe |
Jam ke |
|||
1 |
2 |
3 |
4 |
|
Rasional |
63.00% |
16.40% |
11.50% |
9.10% |
Sumber : Hasil Perhitungan
-
Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu
Parameter perhitungan hidrograf satuan sintetik Nakayasu :
Pos By Adi Dayat
Langganan:
Postingan (Atom)
